MAKALAH
Oleh :
NAMA :RENO
NIM :303 2013 262
Jurusan : Pertanian
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL
PERTANIAN
JURUSAN PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI KETAPANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan
atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan anugerah-Nya kepada
kita sehingga terselesaikannya makalah “DASAR
PENGENDALIAN MUTU HASIL PERTANIAN DAN PERIKANAN ini. Makalah ini merupakan salah satu
rangkaian kegiatan dari mata pelajaran produktif jurusan Pertanian politeknik
Negeri Ketapang
Penyusun mengucapkan
terimakasih kepada para Guru, kakak angkatan, dan teman-teman yang tidak dapat
disebutkan satu per satu yang telah membantu dalam penyusunan makalah.
Penulis sadar kalau makalah ini jauh
dari kesempurnaan, untuk penyempurnaan makalah ini,
penyusun mengharapkan saran yang menyangkut materi maupun penambahan
pengetahuan yang sekiranya dapat menyempurnakan makalah ini, Semoga dapat
bermanfaat bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Dasar-Dasar Teknologi
Hasil Perikanan dan kalangan umum.
Ketapang, 7 Maret 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... 1
A. Latar Belakang......................................................................................... 1
B. Tujuan........................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................ 3
A. Pengendalian mutu.................................................................................... 3
.... a. Pengendalian mutu
hasil pertanian......................................................... 3
.... b. pengendalian mutu
hasil perikanan........................................................ 6
BAB III PENUTUP.............................................................................................. 15
3.1. Kesimpulan........................................................................................... 15
3.2. Saran...................................................................................................... 15
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................. 16
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pada
hakekatnya manusia membutuhkan sandang, pangan dan kebutuhan pangan yang
memadai agar dapat melaksanakan aktivitasnya sehari-hari dengan baik, memadai
dapat difenisikan sebagai kualitatif dan kuantitatif dalam hal ini, pangan yang
memadai adalah jumlah yang cukup untuk seluruh anggota keluarga dan kualitas
pantasnya untuk ukuran segi estetika dan kesehatan. semakin tinggi tingkat
sosial – ekonomi seseorang maka makin tinggi pula tuntunan akan kualitas
makanan, pada zaman sekarang kualitas dari produk –produk makanan sangat
diperhatikan oleh masyarakat baik dari segi jaminan makanan, jaminan kesehatan,
jaminan mutu gizi, maupun lainnya. oleh karena itu banyak kebijakan pemerintah
yang mendesakan produsen yang menghasilkan barang dan jasa untuk menjamin mutu
dari produk barang ataupun jasa yang dihasilkan dan telah memenuhi syarat untuk
dipakai dan dikonsumsi oleh konsumen akhir, disini peran pemerintah dalam
menetapkan kebijaksanaan agar kualitas dari produk dan jasa tersebut memenuhi
standarisasi, standar atau syarat mutu yang telah ditetapkan oleh kebijakan
pemerintah adalah standarisasi mutu yang dipakai oleh daerah atau negara
tersebut. akan tetapi harus sesuai dengan standarisasi yang dipakai oleh
standarisasi pasar dunia. saat ini merupak era modern yang memasuki pasar
globalisasi pedagangan bebas asia tenggara yang disebut AFTA, jika indonesia
tidak sanggup memenuhi standarisasi untuk meningkatkan kualitas produk makan
indonesia akan tertinggal oleh negara asia tenggara apalagi dunia.
AFTA
merupakan perdagangan bebas salam lingkup yang kecil tidak selamanya
berkecimpung dalam lingkup yang kecil ini, tetapi juga menghadapi hal yang
lebih besar lagi, produk – produk yang dihasilkan akan bersaing diluar negeri
maupun dalam negeri, bila indonesia menghasilkan kualitas rendah maka tidak
bisa bersaing dengan negara lain. menarik perhatian konsumen adalah harga dan
kualitas produk yang dihasilkan apabila produk baik mutunya dan relatif rendah
harganya maka konsumen akan condong untuk membeli produk tersebut. maka peranan
mutu sangat diperhatikan dalam menghasilkan barang dan jasa terutama mutu hasil
pertanian dan perikanan.
B. Tujuan
Dengan
mengamati dan membahas hasil sebuah makalah ini Siswa SMK Negeri 2 Ketapang,
diharapkan mengerti apa itu pengendalian mutu hasil pertanian dan peruikanan.
Pengendalian mutu apa saja yang dapat dilaksanakan pada mutu hasil pertanain
dan perikanan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengendalian
mutu
a)
Pengendalian Mutu
Hasil Petanian
Pengendalian
mutu merupakan usaha mempertahankan mutu selama proses produksi sampaiproduk
berada di tangan konsumen pada batas yang dapat diterima dengan biaya
seminimal mungkin. Pengendalian mutu jagung pada saat pasca panen dilakukan
mulai pemanenan, pengeringan awal, pemipilan, pengeringan akhir, pengemasan dan
penyimpanan.
Pengeringan
merupakan usaha untuk menurunkan kadar air sampai batas tertentu
tujuannya agar reaksi biologis terhenti dan mikro organisme serta serangga
tidak bisa hidup di dalamnya. Pengeringan jagung dapat dibedakan menjadi dua tahapan
yaitu:
•
Pengeringan dalam bentuk gelondong.
Pada pengeringan jagung gelondong dilakukan sampai kadar air mencapai 18%
untuk memudahkan pemipilan.
•
Pengeringan butiran setelah jagung dipipil.
Pemipilan merupakan kegiatan memisahkan biji jagung dari tongkolnya.
Pemipilan dapat dilakukan dengan cara tradisional atau dengan cara yang lebih
modern. Secara tradisional pemipilan jagung dapat dilakukan dengan tangan
maupun alat bantu lain yang sederhana seperti kayu, pisau dan lain-lain,
sedangkan yang lebih modern menggunakan mesin pemipil yang disebut Corn
sheller yang dijalankan dengan motor.
Butiran jagung hasil pipilan masih terlalu basah untuk dijual ataupun
disimpan, untuk itu diperlukan satu tahapan proses yaitu pengeringan akhir.
Umumnya petani melakukan pengeringan biji jagung dengan penjemuran di bawah
sinar matahari langsung, sedangkan pengusaha jagung (pabrikan) biasanya
menggunakan mesin pengering tipe Batch Dryerdengan kondisi temperatur
udara pengering antara 50–60oC dengan kelembaban relatif 40%.
Secara umum hasil-hasil pertanian diperoleh dari suatu proses produksi
secara biologis, sehingga setelah dipanen, produknya masih melakukan
kegiatan-kegiatan fisiologis. Tanpa pengendalian yang baik setelah produk
pertanian tersebut dipanen, akan mengalami proses penurunan mutu yang
disebabkan oleh beberapa faktor, baik internal maupun ekternal.
Mutu bahan hasil pertanian dapat berubah/mengalami penurunan.
Supaya bahan hasil pertanian termasuk hasil olahannya tetap berada pada taraf
tertentu dan berada dalam batas toleransi yang masih dapat diterima
konsumen, maka harus dilakukan pengendalian mutu. Untuk dapat
mengendalikan mutu dengan baik kita perlu memahami konsep mutu dan
faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Kegiatan pengolahan dimaksudkan untuk memperoleh berbagai bentuk produk
olahan. Bentuk produk tersebut dapat berupa produk siap konsumsi dan produk
yang belum siap konsumsi (produk setengah jadi). Apapun bentuknya, semua produk
olahan harus memenuhi kriteria mutu yang telah ditentukan. Menurut para ahli
pangan, mutu didefinisikan sebagai quality is combinations of attributes
or characteristics of the product that have significance in determining the degree
of acceptability of the product. Atas dasar pengertian tersebut, maka yang
menentukan mutu adalah konsumen bukan produsen.
Faktor yang mempengaruhi mutu produk dapat bersifat sensoris dan sifat yang
tersembunyi. Sifat sensoris adalah semua sifat yang dapat dinilai sengan
indera. Penilaian dengan indera penglihatan, misalnya : bentuk, ukuran, warna,
kilap. Penilaian dengan indera peraba, misalnya tekstur; dengan indera pembau,
misalnya bau, aroma. Sedangkan dengan indera pencicip, misalnya rasa. Sifat yang
tersembunyi merupakan sifat-sifat yang penilaiannya dilakukan menggunakan
peralatan/instrumen serta bahan-bahan tertentu, misalnya komposisi kimia, niali
gizi dan toksisitas. Faktor lain yang juga dinilai oleh konsumen adalah yang
berkaitan dengan batas kadaluarsa, kebersihan (estetika), berdasarkan
agama/kepercayaan (ke-halal-an) dan etika.
Untuk meningkatkan mutu produk, produsen juga perlu melakukan pengendalian
mutu. Pengendalian mutu merupakan suatu sistem yang digunakan untuk menjaga
agar produk tetap berada dalam tingkat mutu yang diinginkan (Deddy Muchtadi,
1996). Selain itu, produsen harus selalu mengupayakan agar produk yang
dihasilkan memperoleh jaminan mutu. Jaminan mutu diartikan sebagai segenap
tindakan yang direncanakan secara sistematis, yang diperlukan untuk menjamin
produknya memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan. Ada tiga bagian utama
dalam program jaminan mutu, yaitu pengendalian mutu, evaluasi mutu dan
pemeriksaan (auditing). Ketiga kegiatan tersebut untuk meyakinkan bahwa
produk atau proses telah memenuhi spesifikasi yang diinginkan.
b) Pengendalian Mutu Hasil Perikanan
Mutu mengandung
arti nilai-nilai tertentu yang diinginkan pada suatu material. Pada ikan dan
produk cepat busuk lainnya, mutunya identik dengan kesegaran. Ikan yang sangat
segar baru ditangkap dikatakan bermutu tinggi. Istilah “segar” memiliki dua
pengertian, yakni baru dipanen atau ditangkap dan mutunya masih asli belum
mengalami kemunduran apapun.
Ikan yang
baik adalah ikan yang masih segar. Ikan segar dapat diperoleh jika penanganan
dan sanitasi yang baik, semakin lama ikan dibiarkan setelah ditangkap tanpa
penanganan yang baik akan menurunkan kesegarannya. Faktor-faktor yang
menentukan mutu ikan segar dipengaruhi, antara lain:
1. Cara penangkapan ikan
2. Pelabuhan perikanan
3. Berbagai
faktor lainnya, yaitu mulai dari pengalengan, pengepakan, pengangkutan,
pengolahan.
Kesegaran adalah tolok ukur untuk
membedakan ikan yang kualitasnya baik atau tidak. Berdasarkan kesegarannya,
ikan dapat digolongkan menjadi empat kelas mutu, yaitu ikan yang tingkat
kesegarannya sangat baik sekali (prima), ikan yang kesegarannya baik
(advanced), ikan yang kesegarannya mundur (sedang), ikan yang sudah tidak segar
lagi (busuk).
Parameter untuk menentukan kesegaran
ikan terdiri atas faktor-faktor fisikawi, sensori/organoleptik/kimiawi dan
mikrobiologi. Kesegaran ikan dapat dilihat dengan metode yang sederhana dan
lebih mudah dibandingkan dengan metode lainnya dengan melihat kondisi fisik,
yaitu sebagai berikut:
1. Kenampakan
luar
Ikan yang masih segar mempunyai penampakan cerah dan
tidak suram. Keadaan itu karena belum banyak perubahan biokimia yang terjadi.
Metabolisme dalam tubuh ikan masih berjalan sempurna. Pada ikan tidak ditemukan
tanda-tanda perubahan warna, tetapi secara berangsur warna makin suram, karena
timbulnya lendir sebagai akibat berlangsungnya proses biokimiawi lebih
lanjut dan berkembangnya mikrobia.
2.
Lenturan daging ikan
Daging ikan segar cukup lentur jika dibengkokkan dan
segera akan kembali ke bentuknya semula apabila dilepaskan. Kelenturan itu
dikarenakan belum terputusnya jaringan pengikat pada daging, sedangkan pada
ikan busuk jaringan pengikat banyak mengalami kerusakan dan dinding selnya
banyak yang rusak sehingga daging ikan kehilangan kelenturan.
3.
Keadaan mata
Parameter ini merupakan yang paling mudah untuk
dilihat. Perubahan kesegaran ikan akan menyebabkan perubahan yang nyata pada
kecerahan matanya.
4.
Keadaan daging
Kualitas ikan ditentukan oleh dagingnya. Ikan yang
masih segar, berdaging kenyal. Daging ikan yang belum kehilangan cairan daging
kelihatan basah dan pada permukaan tubuh belum terdapat lendir yang menyebabkan
kenampakan ikan menjadi suram/kusam dan tidak menarik.
5.
Keadaan insang dan sisik
Warna insang dapat dikatakan sebagai indicator. Ikan
yang masih segar berwarna cerah merah, sedangkan ikan yang tidak segar berwarna
coklat gelap. Insang merupakan pusat darah mengambil oksigen mengambil air.
Ikan yang mati mengakibatkan peredaran darah terhenti, bahkan sebaliknya dapat
teroksidasi sehingga warnanya berubah menjadi merah gelap. Sisik ikan dapat
menjadi parameter kesegaran ikan, untuk ikan bersisik jika sisiknya masih
melekat kuat, tidak mudah dilepaskan dari tubuhnya tersebut berarti ikan masih
segar.
Pengendalian Mutu Ikan Segar
-
Pendinginan
Pendinginan
ikan merupakan salah satu proses yang umum digunakan untuk mengatasi masalah
pembusukan ikan. Dengan mendinginkan ikan sampai sekitar 0°C kita dapat
memperpanjang masa kesegaran (daya simpan, shelf life) ikan sampai 12-18 hari
sejak saat ikan ditangkap dan mati, tergantung pada jenis ikan, cara penanganan
dan keadaan pendinginannya.
Dengan
pendinginan, hanya berhasil menghambat kegiatan bakteri, bakteri itu masih
tetap hidup dan melakukan perusakan terhadap ikan, tetapi lebih lambat.
Efisiensi pengawetan dengan pendinginan sangat tergantung pada tingkat
kesegaran ikan sesaat sebelum didinginkan. Pendinginan yang dilakukan sebelum
rigor mortis berlalu merupakan cara yang paling efektif, sedangkan pendinginan
yang dilakukan sebelum autolysis berjalan tidak akan banyak berguna.
Pendinginan dapat dilakukan dengan cara-cara :
1.
Pendinginan dengan es
Cara yang paling mudah untuk mendinginkan ikan adalah
dengan menggunakan es. Es mendinginkan dengan cepat tanpa banyak mempengaruhi
keadaan ikan. Cara penanganan pendinginan ikan dengan es sangat beragam
tergantung pada tempat, jenis ikan dan tujuan pendinginan. Pada prinsipnya, es
harus dicampurkan dengan ikan sedemikian rupa sehingga permukaan ikan
bersinggungan dengan es, maka pendinginan ikan akan berlangsung lebih cepat
sehingga pembusukan dapat segera dihambat. Faktor yang juga penting dalam
proses pendinginan ikan adalah kecepatan. Semua pekerjaan harus dilakukan
secara cepat agar suhu ikan cepat turun. Es yang digunakan harus berukuran
kecil, makin kecil ukuran es maka makin banyak permukaan yang bersinggungan
dengan es sehingga proses pendinginan ikan akan berlangsung lebih
cepat. Fungsi es dalam hal ini adalah :
1)
Menurunkan suhu daging ikan sampai mencapai 0°C
2)
Mempertahankan suhu ikan tetap dingin
3)
Menyediakan air es untuk mencuci lendir, sisa-sisa
darah, dan bakteri dari permukaan badan ikan
4)
Mempertahankan keadaan berudara (aerobik) pada ikan,
selama disimpan didalam palka
2.
Pendinginan dengan es kering
Es kering adalah CO₂ yang
dipadatkan. Gas CO₂ sebagai
hasil sampingan dari pupuk urea, berupa gas yang tidak berwarna, berasa asam,
sedikit berbau lunak dan menghasilkan gas panas bertekanan tinggi. Gas panas
tersebut kemudian didinginkan hingga mengembun menjadi cairan CO₂ yang bertekanan tinggi. Kemudian, cairan itu
diturunkan tekanannya menjadi 1 atm melalui alat penyemprot sehingga
menghasilkan “salju”, dan salju itu dimampatkan menjadi Kristal-kristal es
kering yang siap dipakai. Daya pendingin es kering jauh lebih besar dari es
biasa dalam berat uang sama. Jika es yang mencair (pada 0°C) hanya menyerap
panas 80 kkal/kg es, maka es kering yang menyublim (pada suhu -78,5°C) menyerap
136,6 kkal/kg. CO₂ padat tidak
mencair seperti es, melainkan langsung menyublim menjadi gas sehingga tidak
membasahi produk yang didinginkan. Es kering tidak boleh menempel langsung pada
ikan yang didinginkan karena suhu yang sangat rendah (-78°C) dapat merusak
kulit dan daging ikan.
3.
Pendinginan dengan air dingin
Air dingin dapat mendinginkan ikan dengan cepat karena
persinggungan yang lebih baik dari pada pendinginan dengan es. Suhu akhir yang
diperoleh tidak serendah yang dihasilkan dengan pengesan. Berbeda dari es yang
tidak naik suhunya ketika mendinginkan ikan, jika air dingin dicampur dengan
ikan maka suhu air akan naik secara drastis. Didalam mengatasi kenaikan suhu
air, perlu ditambahkan sedikit es kedalam air, tergantung pada jumlah ikan yang
dimasukkan dan berapa lama ikan akan disimpan. Pendinginan dengan air dingin
banyak dilakukan di pabrik-pabrik pengolahan ikan. Jika ikan yang didinginkan
jumlahnya sangat banyak, maka dapat digunakan mesin pendingin untuk
mendinginkan air dan mempertahankan agar suhu air tidak lebih dari 5°C.
Kelebihan pendinginan dengan air dingin dibandingkan
dengan pengesan :
1)
Ikan dapat didinginkan lebih cepat.
2)
Ikan tidak mendapat tekanan dari ikan di atasnya,
sehingga terhindar dari kerusakan akibat tekanan.
3)
Ikan menjadi bersih tercuci, darah dan lendir hilang.
4)
Penanganan dalam jumlah besar lebih mudah dari pada
pendinginan dengan menggunakan es.
Kelemahannya
:
1)
Jika air didinginkan dengan es, pemakaian es relatif
lebih banyak.
2)
Beberapa jenis
ikan tertentu cepat membusuk jika direndam didalam air.
3)
Beberapa jenis ikan yang berkadar lemak rendah
menyerap air selama direndam.
4)
Beberapa jenis ikan akan mengalami perubahan warna.
5)
Air yang dipakai berulang-ulang, konsentrasi kotoran
dan bakteri akan semakin meningkat
4.
Pendinginan dengan air laut atau air garam dan es
Cara mendinginkan ikan dengan air garam yang diberi es
atau air laut yang diberi es sudah sering dipraktikkan. Sudah lama diketahui
bahwa ikan yang didinginkan dengan brain + es atau air laut + es pada suhu
-1,7°C (memakai air laut yang bersih atau brine 3%), lebih tahan lama
dibandingkan bila di es pada suhu 2-3°C. Sebab, dengan suhu yang lebih rendah,
pertumbuhan bakteri pembusuk dapat lebih dihambat lagi. Hanya saja cara ini
masih banyak kekurangannya, terutama bila tidak ada sirkulasi brine dingin.
Akibatnya, suhu dalam wadah tidak merata karena es terapung di permukaan dan
suhu air garam/laut di bagian bawah biasanya lebih tinggi. Tidak meratanya suhu
ini menyebabkan mutu ikan tidak seragam.
5.
Pendinginan menggunakan Cool-Room
Cool room adalah ruang penyimpanan ikan yang didinginkan
dengan mesin pendingin, dan suhunya dapat diatur antara 5°C dan -5°C.
Pengaturan suhu itu dilakukan dengan menggunakan sebuah thermostat yang bekerja
berdasarkan suhu cool room. Selama ikan disimpan dalam cool room, ikan dapat
mengalami dehidrasi sehingga beratnya sedikit berkurang, terutama jika waktu
penyimpanannya cukup lama. Dehidrasi itu tampak pada permukaan kulit ikan yang
mongering. Pengeringan ini merupakan akibat langsung dari system yang di
gunakan. Uap air dari udara di dalam cool room secara alamiah cenderung untuk
bergerak kea rah benda yang paling dingin, yaitu pipa-pipa pendingin, uap air
itu mengembun, dan membeku jika suhu pipa kurang dari 0°C. Akibatnya, udara
menjadi kering dan air yang ada diseluruh ruangan, termasuk di permukaan ikan
akan cepat menguap.
Pembekuan
Pembekuan ikan adalah menyiapkan ikan untuk disimpan
di dalam suhu rendah (cold storage). Pembekuan dimaksudkan untuk mengawetkan
sifat-sifat alami ikan. Pembekuan menggunakan suhu yang lebih rendah,
yaitu jauh dibawah titik beku ikan. Pembekuan mengubah hampir seluruh kandungan
air pada ikan menjadi es. Metode pembekuan yang digunakan adalah:
1)
Pembekuan dengan sharp freezer
Pembekuan ini merupakan cara paling tua dan bisa
digolongkan pada pembekuan lambat. Pembekuan dengan sharp freezer menggunakan
bahan pendingin ammonis, Freon-12, atau brine dingin. Proses pendinginannya
tergantung pada udara dingin yang disirkulasikan melalui kipas angin. Pemakaian
sharp freezer umumnya hanya terbatas untuk pembekuan ikan-ikan kecil. Kecepatan
pembekuannya antara lain ditentukan oleh suhu pipa pendingin (-30°C sampai
-45°C).
2)
Pembekuan dengan blast freezer
Blast freezer merupakan sebuah ruangan atau kamar.
Udara dingin di dalamnya disirkulasikan ke sekitar produk yang di bekukan dengan
bantuan fan. Kecepatan udara paling efektif 1.200 fpm. Makin lambat kecepatan
udara, akan mengakibatkan pembekuan makin lambat.
3)
Pembekuan dengan contact plate freezer
Jenis freezer ini bekerja dengan cara menjepit produk
yang di bekukan diantara dua plat logam yang didinginkan dari dalam dengan
refrigerant yang disirkulasikan.
4)
Pembekuan dengan immersion freezing
Jenis freezer ini membekukan produk dalam air (larutan
garam) yang direfrigerasi, pembekuannya berlangsung cepat. Cara pembekuannya
yaitu dengan mencelupkan ikan ke dalam larutan garam bersuhu -17°C, atau dengan
menyemprotkan ikan memakai brine dingin. Salah satu kelemahan menggunakan
larutan garam adalah kadang-kadang dapat memperpendek shelf life atau
menimbulkan bau kurang enak. Sehingga diganti dengan campuran glukose + air +
garam. Larutan ini mampu menghambat penetrasi garam ke dalam daging, juga dapat
memberi lapisan es pada seluruh badan ikan sebagai pelindung.
5)
Pembekuan dengan cryogenic freezing
Freezer ini membekukan dengan semprotan bahan kriogen,
misalnya karbon dioksida cair dan nitrogen cair. Pembekuan berlangsung sangat
cepat. Jenis freezer ini dapat menghasilkan suhu yang sangat rendah, yaitu
-78°C untuk karbon dioksida dan -196°C untuk nitrogen cair.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Seperti yang
kita ketahui Perdagangan bebas akan mendekati kita dan produk – produk asing
masuk tanpa batas dan tidak lagi di tarifkan atau dikuotakan dan tentu alur
atau jalannya perdagangan akan semakin tampak jelas dan memberikan efek yang positif
bagi bangsa kita apa bial mutu dari produk kita dapat diterima oleh consumen
global dengan melakukan sertifikasi dan estándar nasional. untuk itu indonesia
harus memiliki potensi yang harus dikembangkan terutama dibidang teknologi dan
standarisasi mutu ini dengan begitu indonesia akan tampak bersaing dengan
produk manca negara atau global.
B. Saran
Agar
mendapatkan kualitas yang baik maka diharapkan generasi bangsa berkarya dengan
engembangkan potensi pengendalian mutu pada hasil pertanian dan perikanan
demikian maka akan menambah kualitas bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Adawyah, R.
2008. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. PT. Bumi Aksara : Jakarta
Ilyas, S.
1997. Teknologi Refrigerasi Hasil Perikanan Jilid I. CV. Paripurna : Jakarta
Ilyas, S.
1983. Teknologi Refrigerasi Hasil Perikanan Jilid II. CV. Paripurna : Jakarta
Liviawaty,
E. dan Afrianto, E. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Kasinius :Yogyakarta
Gan, punya rekomendasi harga jual display cooler ? Saya tertarik mau beli :D
BalasHapus