Sabtu, 21 Maret 2015

DASAR PENGENDALIAN MUTU HASIL PERTANIAN DAN HASIL PERIKANAN



MAKALAH





 



Oleh :

              NAMA     :RENO
              NIM           :303 2013 262
             Jurusan      : Pertanian






PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN 
JURUSAN PERTANIAN
 POLITEKNIK NEGERI KETAPANG
2015




KATA PENGANTAR
            Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan anugerah-Nya kepada kita sehingga terselesaikannya makalah “DASAR PENGENDALIAN MUTU HASIL PERTANIAN DAN PERIKANAN  ini. Makalah ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari mata pelajaran produktif jurusan Pertanian politeknik Negeri Ketapang
            Penyusun mengucapkan terimakasih kepada para Guru, kakak angkatan, dan teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu dalam penyusunan makalah.
            Penulis sadar kalau makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk penyempurnaan makalah ini, penyusun mengharapkan saran yang menyangkut materi maupun penambahan pengetahuan yang sekiranya dapat menyempurnakan makalah ini, Semoga dapat bermanfaat bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Dasar-Dasar Teknologi Hasil Perikanan dan kalangan umum.
                                                                                                                                      


Ketapang, 7 Maret 2015


                                                                                                          Penyusun





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... 1
A.   Latar Belakang......................................................................................... 1
B. Tujuan........................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................ 3
A. Pengendalian mutu.................................................................................... 3
.... a. Pengendalian mutu hasil pertanian......................................................... 3
.... b. pengendalian mutu hasil perikanan........................................................ 6
BAB III PENUTUP.............................................................................................. 15
3.1.   Kesimpulan........................................................................................... 15
3.2. Saran...................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 16
                                                                        




BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Pada hakekatnya manusia membutuhkan sandang, pangan dan kebutuhan pangan yang memadai agar dapat melaksanakan aktivitasnya sehari-hari dengan baik, memadai dapat difenisikan sebagai kualitatif dan kuantitatif dalam hal ini, pangan yang memadai adalah jumlah yang cukup untuk seluruh anggota keluarga dan kualitas pantasnya untuk ukuran segi estetika dan kesehatan. semakin tinggi tingkat sosial – ekonomi seseorang maka makin tinggi pula tuntunan akan kualitas makanan, pada zaman sekarang kualitas dari produk –produk makanan sangat diperhatikan oleh masyarakat baik dari segi jaminan makanan, jaminan kesehatan, jaminan mutu gizi, maupun lainnya. oleh karena itu banyak kebijakan pemerintah yang mendesakan produsen yang menghasilkan barang dan jasa untuk menjamin mutu dari produk barang ataupun jasa yang dihasilkan dan telah memenuhi syarat untuk dipakai dan dikonsumsi oleh konsumen akhir, disini peran pemerintah dalam menetapkan kebijaksanaan agar kualitas dari produk dan jasa tersebut memenuhi standarisasi, standar atau syarat mutu yang telah ditetapkan oleh kebijakan pemerintah adalah standarisasi mutu yang dipakai oleh daerah atau negara tersebut. akan tetapi harus sesuai dengan standarisasi yang dipakai oleh standarisasi pasar dunia. saat ini merupak era modern yang memasuki pasar globalisasi pedagangan bebas asia tenggara yang disebut AFTA, jika indonesia tidak sanggup memenuhi standarisasi untuk meningkatkan kualitas produk makan indonesia akan tertinggal oleh negara asia tenggara apalagi dunia.

AFTA merupakan perdagangan bebas salam lingkup yang kecil tidak selamanya berkecimpung dalam lingkup yang kecil ini, tetapi juga menghadapi hal yang lebih besar lagi, produk – produk yang dihasilkan akan bersaing diluar negeri maupun dalam negeri, bila indonesia menghasilkan kualitas rendah maka tidak bisa bersaing dengan negara lain. menarik perhatian konsumen adalah harga dan kualitas produk yang dihasilkan apabila produk baik mutunya dan relatif rendah harganya maka konsumen akan condong untuk membeli produk tersebut. maka peranan mutu sangat diperhatikan dalam menghasilkan barang dan jasa terutama mutu hasil pertanian dan perikanan.

B.       Tujuan
Dengan mengamati dan membahas hasil sebuah makalah ini Siswa SMK Negeri 2 Ketapang, diharapkan mengerti apa itu pengendalian mutu hasil pertanian dan peruikanan. Pengendalian mutu apa saja yang dapat dilaksanakan pada mutu hasil pertanain dan perikanan.



BAB II
PEMBAHASAN

A.       Pengendalian mutu
a)       Pengendalian Mutu  Hasil Petanian
Pengendalian mutu merupakan usaha mempertahankan mutu selama proses produksi sampaiproduk berada di tangan konsumen pada batas yang dapat diterima dengan biaya seminimal mungkin. Pengendalian mutu jagung pada saat pasca panen dilakukan mulai pemanenan, pengeringan awal, pemipilan, pengeringan akhir, pengemasan dan penyimpanan.
Pengeringan merupakan usaha untuk menurunkan kadar air sampai batas tertentu tujuannya agar reaksi biologis terhenti dan mikro organisme serta serangga tidak bisa hidup di dalamnya. Pengeringan jagung dapat dibedakan menjadi dua tahapan yaitu:

           Pengeringan dalam bentuk gelondong.
Pada pengeringan jagung gelondong dilakukan sampai kadar air mencapai 18% untuk memudahkan pemipilan.

            Pengeringan butiran setelah jagung dipipil.
Pemipilan merupakan kegiatan memisahkan biji jagung dari tongkolnya. Pemipilan dapat dilakukan dengan cara tradisional atau dengan cara yang lebih modern. Secara tradisional pemipilan jagung dapat dilakukan dengan tangan maupun alat bantu lain yang sederhana seperti kayu, pisau dan lain-lain, sedangkan yang lebih modern menggunakan mesin pemipil yang disebut Corn sheller yang dijalankan dengan motor.


Butiran jagung hasil pipilan masih terlalu basah untuk dijual ataupun disimpan, untuk itu diperlukan satu tahapan proses yaitu pengeringan akhir. Umumnya petani melakukan pengeringan biji jagung dengan penjemuran di bawah sinar matahari langsung, sedangkan pengusaha jagung (pabrikan) biasanya menggunakan mesin pengering tipe Batch Dryerdengan kondisi temperatur udara pengering antara 50–60oC dengan kelembaban relatif 40%.
Secara umum hasil-hasil pertanian diperoleh dari suatu proses produksi secara biologis, sehingga setelah dipanen, produknya masih melakukan kegiatan-kegiatan fisiologis. Tanpa pengendalian yang baik setelah produk pertanian tersebut dipanen, akan mengalami proses penurunan mutu yang disebabkan oleh beberapa faktor, baik internal maupun ekternal.
Mutu bahan hasil pertanian dapat berubah/mengalami penurunan.   Supaya bahan hasil pertanian termasuk hasil olahannya tetap berada pada taraf tertentu dan berada dalam batas toleransi yang masih dapat diterima konsumen, maka harus dilakukan pengendalian mutu.  Untuk dapat mengendalikan mutu dengan baik kita perlu memahami konsep mutu dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Kegiatan pengolahan dimaksudkan untuk memperoleh berbagai bentuk produk olahan. Bentuk produk tersebut dapat berupa produk siap konsumsi dan produk yang belum siap konsumsi (produk setengah jadi). Apapun bentuknya, semua produk olahan harus memenuhi kriteria mutu yang telah ditentukan. Menurut para ahli pangan, mutu didefinisikan sebagai quality is combinations of attributes or characteristics of the product that have significance in determining the degree of acceptability of the product. Atas dasar pengertian tersebut, maka yang menentukan mutu adalah konsumen bukan produsen.


Faktor yang mempengaruhi mutu produk dapat bersifat sensoris dan sifat yang tersembunyi. Sifat sensoris adalah semua sifat yang dapat dinilai sengan indera. Penilaian dengan indera penglihatan, misalnya : bentuk, ukuran, warna, kilap. Penilaian dengan indera peraba, misalnya tekstur; dengan indera pembau, misalnya bau, aroma. Sedangkan dengan indera pencicip, misalnya rasa. Sifat yang tersembunyi merupakan sifat-sifat yang penilaiannya dilakukan menggunakan peralatan/instrumen serta bahan-bahan tertentu, misalnya komposisi kimia, niali gizi dan toksisitas. Faktor lain yang juga dinilai oleh konsumen adalah yang berkaitan dengan batas kadaluarsa, kebersihan (estetika), berdasarkan agama/kepercayaan (ke-halal-an) dan etika.
Untuk meningkatkan mutu produk, produsen juga perlu melakukan pengendalian mutu. Pengendalian mutu merupakan suatu sistem yang digunakan untuk menjaga agar produk tetap berada dalam tingkat mutu yang diinginkan (Deddy Muchtadi, 1996). Selain itu, produsen harus selalu mengupayakan agar produk yang dihasilkan memperoleh jaminan mutu. Jaminan mutu diartikan sebagai segenap tindakan yang direncanakan secara sistematis, yang diperlukan untuk menjamin produknya memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan. Ada tiga bagian utama dalam program jaminan mutu, yaitu pengendalian mutu, evaluasi mutu dan pemeriksaan (auditing). Ketiga kegiatan tersebut untuk meyakinkan bahwa produk atau proses telah memenuhi spesifikasi yang diinginkan.

b)     Pengendalian Mutu Hasil Perikanan
Mutu mengandung arti nilai-nilai tertentu yang diinginkan pada suatu material. Pada ikan dan produk cepat busuk lainnya, mutunya identik dengan kesegaran. Ikan yang sangat segar baru ditangkap dikatakan bermutu tinggi. Istilah “segar” memiliki dua pengertian, yakni baru dipanen atau ditangkap dan mutunya masih asli belum mengalami kemunduran apapun.
Ikan yang baik adalah ikan yang masih segar. Ikan segar dapat diperoleh jika penanganan dan sanitasi yang baik, semakin lama ikan dibiarkan setelah ditangkap tanpa penanganan yang baik akan menurunkan kesegarannya. Faktor-faktor yang menentukan mutu ikan segar dipengaruhi, antara lain:
1. Cara penangkapan ikan
2. Pelabuhan perikanan
3. Berbagai faktor lainnya, yaitu mulai dari pengalengan, pengepakan, pengangkutan, pengolahan.
Kesegaran adalah tolok ukur untuk membedakan ikan yang kualitasnya baik atau tidak. Berdasarkan kesegarannya, ikan dapat digolongkan menjadi empat kelas mutu, yaitu ikan yang tingkat kesegarannya sangat baik sekali (prima), ikan yang kesegarannya baik (advanced), ikan yang kesegarannya mundur (sedang), ikan yang sudah tidak segar lagi (busuk).
Parameter untuk menentukan kesegaran ikan terdiri atas faktor-faktor fisikawi, sensori/organoleptik/kimiawi dan mikrobiologi. Kesegaran ikan dapat dilihat dengan metode yang sederhana dan lebih mudah dibandingkan dengan metode lainnya dengan melihat kondisi fisik, yaitu sebagai berikut:
1.      Kenampakan luar
Ikan yang masih segar mempunyai penampakan cerah dan tidak suram. Keadaan itu karena belum banyak perubahan biokimia yang terjadi. Metabolisme dalam tubuh ikan masih berjalan sempurna. Pada ikan tidak ditemukan tanda-tanda perubahan warna, tetapi secara berangsur warna makin suram, karena timbulnya lendir sebagai akibat berlangsungnya proses biokimiawi lebih lanjut dan berkembangnya mikrobia.
2.      Lenturan daging ikan
Daging ikan segar cukup lentur jika dibengkokkan dan segera akan kembali ke bentuknya semula apabila dilepaskan. Kelenturan itu dikarenakan belum terputusnya jaringan pengikat pada daging, sedangkan pada ikan busuk jaringan pengikat banyak mengalami kerusakan dan dinding selnya banyak yang rusak sehingga daging ikan kehilangan kelenturan.
3.      Keadaan mata
Parameter ini merupakan yang paling mudah untuk dilihat. Perubahan kesegaran ikan akan menyebabkan perubahan yang nyata pada kecerahan matanya.
4.      Keadaan daging
Kualitas ikan ditentukan oleh dagingnya. Ikan yang masih segar, berdaging kenyal. Daging ikan yang belum kehilangan cairan daging kelihatan basah dan pada permukaan tubuh belum terdapat lendir yang menyebabkan kenampakan ikan menjadi suram/kusam dan tidak menarik.
5.      Keadaan insang dan sisik
Warna insang dapat dikatakan sebagai indicator. Ikan yang masih segar berwarna cerah merah, sedangkan ikan yang tidak segar berwarna coklat gelap. Insang merupakan pusat darah mengambil oksigen mengambil air. Ikan yang mati mengakibatkan peredaran darah terhenti, bahkan sebaliknya dapat teroksidasi sehingga warnanya berubah menjadi merah gelap. Sisik ikan dapat menjadi parameter kesegaran ikan, untuk ikan bersisik jika sisiknya masih melekat kuat, tidak mudah dilepaskan dari tubuhnya tersebut berarti ikan masih segar.
Pengendalian Mutu Ikan Segar
-         Pendinginan
Pendinginan ikan merupakan salah satu proses yang umum digunakan untuk mengatasi masalah pembusukan ikan. Dengan mendinginkan ikan sampai sekitar 0°C kita dapat memperpanjang masa kesegaran (daya simpan, shelf life) ikan sampai 12-18 hari sejak saat ikan ditangkap dan mati, tergantung pada jenis ikan, cara penanganan dan keadaan pendinginannya. 
Dengan pendinginan, hanya berhasil menghambat kegiatan bakteri, bakteri itu masih tetap hidup dan melakukan perusakan terhadap ikan, tetapi lebih lambat. Efisiensi pengawetan dengan pendinginan sangat tergantung pada tingkat kesegaran ikan sesaat sebelum didinginkan. Pendinginan yang dilakukan sebelum rigor mortis berlalu merupakan cara yang paling efektif, sedangkan pendinginan yang dilakukan sebelum autolysis berjalan tidak akan banyak berguna. Pendinginan dapat dilakukan dengan cara-cara :
1.     Pendinginan dengan es
Cara yang paling mudah untuk mendinginkan ikan adalah dengan menggunakan es. Es mendinginkan dengan cepat tanpa banyak mempengaruhi keadaan ikan. Cara penanganan pendinginan ikan dengan es sangat beragam tergantung pada tempat, jenis ikan dan tujuan pendinginan. Pada prinsipnya, es harus dicampurkan dengan ikan sedemikian rupa sehingga permukaan ikan bersinggungan dengan es, maka pendinginan ikan akan berlangsung lebih cepat sehingga pembusukan dapat segera dihambat. Faktor yang juga penting dalam proses pendinginan ikan adalah kecepatan. Semua pekerjaan harus dilakukan secara cepat agar suhu ikan cepat turun. Es yang digunakan harus berukuran kecil, makin kecil ukuran es maka makin banyak permukaan yang bersinggungan dengan es sehingga proses pendinginan ikan akan berlangsung lebih cepat. Fungsi es dalam hal ini adalah :
1)     Menurunkan suhu daging ikan sampai mencapai 0°C
2)     Mempertahankan suhu ikan tetap dingin
3)     Menyediakan air es untuk mencuci lendir, sisa-sisa darah, dan bakteri dari permukaan badan ikan
4)     Mempertahankan keadaan berudara (aerobik) pada ikan, selama disimpan didalam palka

2.     Pendinginan dengan es kering
Es kering adalah CO yang dipadatkan. Gas CO sebagai hasil sampingan dari pupuk urea, berupa gas yang tidak berwarna, berasa asam, sedikit berbau lunak dan menghasilkan gas panas bertekanan tinggi. Gas panas tersebut kemudian didinginkan hingga mengembun menjadi cairan CO yang bertekanan tinggi. Kemudian, cairan itu diturunkan tekanannya menjadi 1 atm melalui alat penyemprot sehingga menghasilkan “salju”, dan salju itu dimampatkan menjadi Kristal-kristal es kering yang siap dipakai. Daya pendingin es kering jauh lebih besar dari es biasa dalam berat uang sama. Jika es yang mencair (pada 0°C) hanya menyerap panas 80 kkal/kg es, maka es kering yang menyublim (pada suhu -78,5°C) menyerap 136,6 kkal/kg. CO padat tidak mencair seperti es, melainkan langsung menyublim menjadi gas sehingga tidak membasahi produk yang didinginkan. Es kering tidak boleh menempel langsung pada ikan yang didinginkan karena suhu yang sangat rendah (-78°C) dapat merusak kulit dan daging ikan.

3.     Pendinginan dengan air dingin
Air dingin dapat mendinginkan ikan dengan cepat karena persinggungan yang lebih baik dari pada pendinginan dengan es. Suhu akhir yang diperoleh tidak serendah yang dihasilkan dengan pengesan. Berbeda dari es yang tidak naik suhunya ketika mendinginkan ikan, jika air dingin dicampur dengan ikan maka suhu air akan naik secara drastis. Didalam mengatasi kenaikan suhu air, perlu ditambahkan sedikit es kedalam air, tergantung pada jumlah ikan yang dimasukkan dan berapa lama ikan akan disimpan. Pendinginan dengan air dingin banyak dilakukan di pabrik-pabrik pengolahan ikan. Jika ikan yang didinginkan jumlahnya sangat banyak, maka dapat digunakan mesin pendingin untuk mendinginkan air dan mempertahankan agar suhu air tidak lebih dari 5°C.

Kelebihan pendinginan dengan air dingin dibandingkan dengan pengesan :
1)     Ikan dapat didinginkan lebih cepat.
2)     Ikan tidak mendapat tekanan dari ikan di atasnya, sehingga terhindar dari kerusakan akibat tekanan.
3)     Ikan menjadi bersih tercuci, darah dan lendir hilang.
4)     Penanganan dalam jumlah besar lebih mudah dari pada pendinginan dengan menggunakan es.

Kelemahannya :
1)     Jika air didinginkan dengan es, pemakaian es relatif lebih banyak.
2)      Beberapa jenis ikan tertentu cepat membusuk jika direndam didalam air.
3)     Beberapa jenis ikan yang berkadar lemak rendah menyerap air selama direndam.
4)     Beberapa jenis ikan akan mengalami perubahan warna.
5)     Air yang dipakai berulang-ulang, konsentrasi kotoran dan bakteri akan semakin meningkat

4.     Pendinginan dengan air laut atau air garam dan es
Cara mendinginkan ikan dengan air garam yang diberi es atau air laut yang diberi es sudah sering dipraktikkan. Sudah lama diketahui bahwa ikan yang didinginkan dengan brain + es atau air laut + es pada suhu -1,7°C (memakai air laut yang bersih atau brine 3%), lebih tahan lama dibandingkan bila di es pada suhu 2-3°C. Sebab, dengan suhu yang lebih rendah, pertumbuhan bakteri pembusuk dapat lebih dihambat lagi. Hanya saja cara ini masih banyak kekurangannya, terutama bila tidak ada sirkulasi brine dingin. Akibatnya, suhu dalam wadah tidak merata karena es terapung di permukaan dan suhu air garam/laut di bagian bawah biasanya lebih tinggi. Tidak meratanya suhu ini menyebabkan mutu ikan tidak seragam.

5.     Pendinginan menggunakan Cool-Room
Cool room adalah ruang penyimpanan ikan yang didinginkan dengan mesin pendingin, dan suhunya dapat diatur antara 5°C dan -5°C. Pengaturan suhu itu dilakukan dengan menggunakan sebuah thermostat yang bekerja berdasarkan suhu cool room. Selama ikan disimpan dalam cool room, ikan dapat mengalami dehidrasi sehingga beratnya sedikit berkurang, terutama jika waktu penyimpanannya cukup lama. Dehidrasi itu tampak pada permukaan kulit ikan yang mongering. Pengeringan ini merupakan akibat langsung dari system yang di gunakan. Uap air dari udara di dalam cool room secara alamiah cenderung untuk bergerak kea rah benda yang paling dingin, yaitu pipa-pipa pendingin, uap air itu mengembun, dan membeku jika suhu pipa kurang dari 0°C. Akibatnya, udara menjadi kering dan air yang ada diseluruh ruangan, termasuk di permukaan ikan akan cepat menguap.

Pembekuan
Pembekuan ikan adalah menyiapkan ikan untuk disimpan di dalam suhu rendah (cold storage). Pembekuan dimaksudkan untuk mengawetkan sifat-sifat alami  ikan. Pembekuan menggunakan suhu yang lebih rendah, yaitu jauh dibawah titik beku ikan. Pembekuan mengubah hampir seluruh kandungan air pada ikan menjadi es. Metode pembekuan yang digunakan adalah:
1)     Pembekuan dengan sharp freezer
Pembekuan ini merupakan cara paling tua dan bisa digolongkan pada pembekuan lambat. Pembekuan dengan sharp freezer menggunakan bahan pendingin ammonis, Freon-12, atau brine dingin. Proses pendinginannya tergantung pada udara dingin yang disirkulasikan melalui kipas angin. Pemakaian sharp freezer umumnya hanya terbatas untuk pembekuan ikan-ikan kecil. Kecepatan pembekuannya antara lain ditentukan oleh suhu pipa pendingin (-30°C sampai -45°C).
2)     Pembekuan dengan blast freezer
Blast freezer merupakan sebuah ruangan atau kamar. Udara dingin di dalamnya disirkulasikan ke sekitar produk yang di bekukan dengan bantuan fan. Kecepatan udara paling efektif 1.200 fpm. Makin lambat kecepatan udara, akan mengakibatkan pembekuan makin lambat.
3)     Pembekuan dengan contact plate freezer
Jenis freezer ini bekerja dengan cara menjepit produk yang di bekukan diantara dua plat logam yang didinginkan dari dalam dengan refrigerant yang disirkulasikan.
4)     Pembekuan dengan immersion freezing
Jenis freezer ini membekukan produk dalam air (larutan garam) yang direfrigerasi, pembekuannya berlangsung cepat. Cara pembekuannya yaitu dengan mencelupkan ikan ke dalam larutan garam bersuhu -17°C, atau dengan menyemprotkan ikan memakai brine dingin. Salah satu kelemahan menggunakan larutan garam adalah kadang-kadang dapat memperpendek shelf life atau menimbulkan bau kurang enak. Sehingga diganti dengan campuran glukose + air + garam. Larutan ini mampu menghambat penetrasi garam ke dalam daging, juga dapat memberi lapisan es pada seluruh badan ikan sebagai pelindung.
5)     Pembekuan dengan cryogenic freezing
Freezer ini membekukan dengan semprotan bahan kriogen, misalnya karbon dioksida cair dan nitrogen cair. Pembekuan berlangsung sangat cepat. Jenis freezer ini dapat menghasilkan suhu yang sangat rendah, yaitu -78°C untuk karbon dioksida dan -196°C untuk nitrogen cair.



BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Seperti yang kita ketahui Perdagangan bebas akan mendekati kita dan produk – produk asing masuk tanpa batas dan tidak lagi di tarifkan atau dikuotakan dan tentu alur atau jalannya perdagangan akan semakin tampak jelas dan memberikan efek yang positif bagi bangsa kita apa bial mutu dari produk kita dapat diterima oleh consumen global dengan melakukan sertifikasi dan estándar nasional. untuk itu indonesia harus memiliki potensi yang harus dikembangkan terutama dibidang teknologi dan standarisasi mutu ini dengan begitu indonesia akan tampak bersaing dengan produk manca negara atau global.

B.     Saran
Agar mendapatkan kualitas yang baik maka diharapkan generasi bangsa berkarya dengan engembangkan potensi pengendalian mutu pada hasil pertanian dan perikanan demikian maka akan menambah kualitas bangsa.




DAFTAR PUSTAKA
Adawyah, R. 2008. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. PT. Bumi Aksara : Jakarta
Ilyas, S. 1997. Teknologi Refrigerasi Hasil Perikanan Jilid I. CV. Paripurna : Jakarta
Ilyas, S. 1983. Teknologi Refrigerasi Hasil Perikanan Jilid II. CV. Paripurna : Jakarta
Liviawaty, E. dan Afrianto, E. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Kasinius  :Yogyakarta












 



1 komentar: